PEMBANGUNAN KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN HARUS TERINTEGRASI

Part 3

Kita akan membahas bagaimana menerapkan dan mewujudkan Trisakti Bung Karno dalam kehidupan nyata, sesuai dengan prinsip pertama Pancasila 1 Juni 1945 adalah “Kebangsaan”, maka dalam mewujudkan negara sesuai cita-cita leluhur kita ini, yang paling utama sebelum membangun di sektor lainya kita perlu membangun dari sisi Kebangsaan kita, membicarakan Kebangsaan tentu tidak lepas dari Sumberdaya Manusianya. Dalam investasi bidang Sumberdaya Manusia ini membutuhkan modal yang sangat besar dan hasilnya tidak bisa dinikmati dengan instan, akan tetapi hal ini sangat mendasar. Oleh karenanya titik berat mewujudkan negara yang bisa disegani negara lain hanyalah dengan mengutamakan berinvestasi dalam Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan secara besar-besaran. Untuk mewujudkan Manusia Indonesia yang berbudi luhur ini, maka Pembangunan Manusia tidak bisa dipisahkan dengan Pembangunan Budaya, akan tetapi harus terintegrasi atau bersamaan.

Kunci utama dalam rangka perbaikan ini kita harus mensucikan hati untuk menerima ajaran-ajaran positif yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu dalam masalah ini akan kita kupas ajaran-ajaran Tuhan yang diterima dan berkembang dengan baik di masyarakat kita, mulai dari apa yang telah Tuhan berikan kepada manusia khususnya bangsa Indonesia. Kita coba memulai dengan membuka isi ayat suci dalam Kitab-Kitab Agama dan Kepercayaan yang ada di Indonesia, diantaranya:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72)

Setelah bangsa Indonesia diberikan amanat dari Tuhan, yaitu “Kemerdekaan Indonesia”, seperti wasiat Bung Karno “Kemerdekaan hanyalah Jembatan Emas”, apa yang terjadi sekarang? Karena kita zalim dan bodoh, meninggalkan apa yang sudah kita miliki, menghianati amanat dari Tuhan, mengikari betapa muliannya ajaran-ajaran yang berasal dari leluhur kita sendiri dan itu semua yang mengakibatkan Bangsa Indonesia jadi banyak hutang, banyak rakyat miskin, pendidikan “nampak” tertinggal jauh dengan negara-negara lain, bahkan meskipun kita mencoba menerapkan tehnologi industri tingkat tinggi kita justru semakin jauh tertinggal dan terpuruk, karena sesungguhnya Tuhan justru menganugerahkan kita banyak ilmu – ilmu sosial yang lebih baik dibandingkan ilmu pengetahuan alamnya dan Indonesia akan menjadi sorotan dunia apabila kita justru memperdalam dan mensosialisasikan Ilmu Sosial yang dimiliki bangsa Indonesia, karena bangsa Indonesia bangsa paling plural, paling toleran, dan mempunyai cara pandang berbeda dalam bermasyarakat dan bernegara dari negara-negara lain di manapun, akan tetapi justru kita meninggalkan cara-cara itu, dan hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang ini. Lebih lanjut kita coba tafsirkan Firman Allah di bawah ini:

“Al Israa:70 Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Dengan begitu jelas Tuhan menganugerahkan kelebihan bangsa Indonesia berupa alam dan Kebudayaan yang begitu luhur yang bernilai sangat tinggi, tetapi Indonesia justru banyak mengadopsi ilmu-ilmu dan tehnologi dari barat, Tehnologi adalah kelebihan mereka, sementara Kebudayaan dan alam yang subur adalah kelebihan bangsa Indonesia, inilah yang harus kita kembangkan dan kita perkenalkan kepada negara lain, apabila Jepang di sekolah – sekolahnya diwajibkan mengajarkan untuk menegur teman sebangku, sekelas, tetangga, dan menegur makhluk di sekitarnya pada lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal mereka, Indonesia tidak perlu belajar hal itu, akan tetapi secara otomatis anak baru lahir saja setelah menangis beberapa detik, dia langsung ramah dengan lingkungannya, karena bayi merah Indonesia sudah belajar tersenyum menyapa orang di sekelilingnya, bangsa Indonesia-lah yang paling ramah dengan lingkungan, mau berbicara dengan kucing, anjing atau binatang dan pepohonan yang tumbuh disekitarnya, orang Indonesia selalu mengagumi keindahan alam, bangsa Indonesia bisa tinggal seatap meskipun mereka beda suku, beda agama, beda warna kulit, mereka justru saling berbagi cerita, berbagi makanan, berbagi tempat tinggal, mereka saling menghormati satu sama lain, bahu membahu, tolong menolong dan gotong royong menciptakan keharmonisan lingkungan tanpa aturan yang tegas, tanpa imbalan hadiah, tanpa ancaman, dan tidak diintimidasi siapapun agar mereka bisa rukun; akan tetapi mengapa justru kita mengadopsi Ilmu barat , cara-cara barat, budaya barat yang menghancurkan alam dengan nuklirnya?, keserakahannya?, individualismenya? dan lain – lain yang justru merusak budaya kita sendiri.

Sudah selayaknya hanya bangsa Indonesia yang seharusnya mendapatkan nobel perdamaian, karena orang asing akan belajar harmonisnya keluarga di Indonesia, rukunnya bertetangga, toleransinya umat beragama, dan hanya ada di Indonesia budaya Gotong Royong itu tertanam begitu mendalam. Marilah kita kembali back to nature, back to our original culture, back to Structure to get the best our Future, itulah yang akan kita ajarkan kepada bangsa lain, yang hari ini mereka justru berlomba memamerkan keegoisan, kesombongan dan kepongahan tehnologi mereka, kita ini “berbeda”, “berbeda” sekali lagi “berbeda”, sudah seharusnya PBB yang memimpin Indonesia, karena Indonesia yang mampu mendamaikan berbagai suku, agama, bahasa dan ras!!!!!, kita bukan negara pendendam, Indonesia tidak pernah memusuhi Malaysia meskipun telah merebut pulau-pulau kita, Indonesia tidak membenci Timor Leste meskipun mereka berontak, bahkan Indonesia tidak pernah dendam atau memusuhi Belanda, Portugis dan Jepang yang pernah menjajah dan menguras kekayaan Indonesia, merka akan menyesal kelak karena telah berlaku kurang baik terhadap bangsa Indonesia yang penuh damai ini, kita selalu berdamai dengan siapapun dari bangsa, suku, agama, ras apapun, karena Indonesia adalah Miniatur Dunia. Hanya Indonesia yang bisa seperti ini, letupan-letupan kecil hanya akibat ajaran barat yaitu keserakahan manusia yang ingin menguasai sebuah wilayah, Indonesia tidak punya budaya itu, bangsa Indonesia mempunyai budaya saling berbagi, pertempuran dalam Pemilu, Pilpres, dalam tubuh organisasi masyarakat ataupun organisasi politik dan di gedung DPR-MPR berakhir dengan perdamaian, sekali lagi hanya ada di Indonesia, kita harus ajarkan ini kepada mereka yang punya hobi bertikai, negara lain tidak pantas memberi hadiah nobel perdamaian, karena mereka tidak tahu apa arti perdamaian yang sebenarnya, akan tetapi Indonesia yang berhak memberikan hadiah perdamaian itu, jadi jelas Indonesia tidak perlu mengharap nobel perdamaian, akan tetapi yang seharusnya memberikan hadiah perdamaian bagi perorangan, kelompok dan negara manapun yang mencoba menerapkan perdamaian; mereka harus belajar bermasyarakat yang penuh kedamaian dan berbudaya dari bangsa Indonesia.

Kita telah diusir dari surga oleh Tuhan, gara-gara menerapkan cara-cara orang barat membangun Kemanusiaan dan Kebudayaan, kita jadi terpuruk karenanya, oleh sebab itu kita harus membuka lagi petunjuk dan mencari jejak cara bagaimana menciptakan kesejahteraan dan perdamaian yang diajarkan Tuhan kepada kita, diantaranya dalam Al Qur’an “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S al-Baqarah : 38).

Dari ayat di atas meskipun kita berada dalam kesusahan atau keluar dari surga, perintah Tuhan agar bangsa Indonesia mengikuti perintah-Nya, karena di Indonesia saja yang bisa menerima dan menerapkan ajaran agama apapun dan kepercayaan kepada Tuhan dengan baik, Kita tidak boleh meninggalkan ajaran agama dan tidak boleh memisahkan antara pemerintah dalam mengambil kebijakan dengan memandang sebelah mata agama dan kepercayaan yang sudah mendarah daging di negara ini. Negara lain berusaha menjadi negara sekuler karena menganggap agama dan kepercayaan itu biang permusuhan dan kehancuran, kita akan buktikan bahwa itu tidak benar!!!!, agama dan kepercayaanlah yang membuat perdamaian, kebaikan dan keharmonisan. Kita pernah berjaya di dunia karena leluhur kita tidak meninggalkan agama dan budaya kita, justru agama dan kebudayaan kita berkembang dengan pesat, akan tetapi hari ini kita gengsi menggunakan ilmu dan petunjuk yang ada dan berasal dari leluhur kita sendiri, orang Indonesia hari ini lebih suka menggali ilmu dari negara lain daripada meneliti dan menggali ilmu yang ada di bumi pertiwi ini, apabila disampaikan manfaat jengkol untuk obat kangker atau diabetes oleh mang Dadang tidak ada yang percaya, akan tetapi bila Profesor Doktor Amerika atau Eropa yang menyampaikan, langsung percaya; oleh karena itu mulai hari ini kita akan berinvestasi secara besar-besaran untuk menggali kekayaan leluhur kita, sehingga kita akan bangga menjadi bangsa Indonesia, bukan bangsa imitasi atau bangsa yang suka meniru peradaban orang lain.

Tuhan telah menganugerahkan kepada bangsa Indonesia menjadi manusia paling ramah dimuka bumi bangsa yang tidak sombong dan selalu bertutur kata baik karena bangsa Indonesia adalah bangsa ber-Tuhan dan selalu menerapkan ajaran-ajaran Tuhan seperti dalam Injil berikut ini, Tuhan berfirman: Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. (Matius 5:5)”.Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah (Amsal 15:1)”, demikian juga dalam Al Qur’an yang banyak diprkatekkan pengikutnya di negara ini dimana terdapat surat Ali Imron: 159: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” Dengan sangat jelas Tuhan memberikan kelebihan kepada bangsa kita yang mampu mempraktekkan ajaran Tuhan dengan baik dan benar, lalu mengapa kita mencoba mengadopsi tata cara barat yang lebih berorientasi kepada kekasaran, kesombongan, cuek dan keserakahan. Bersyukurlah kita punya Pancasila yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945, meskipun lahir mendekati kemerdekaan Indonesia, akan tetapi konsep dasarnya digali dari warisan leluhur bangsa kita yang sudah berumur ratusan tahun, sehingga Pancasila 1 Juni 1945 akan kita gunakan sebagai landasan paling mendasar dalam menerapkan Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan ini. Dimana awal diucapkan kata Pancasila, ketika itu dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan bapak Proklamator Kita Soekarno diberi kesempatan untuk berpidato pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai, beliau mengungkapkan:

“Saya seorang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh Rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagus Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan automatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarchie itu.

Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5 ? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:

  1. Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme, – atau peri-kemanusiaan.
  3. Mufakat, – atau demokrasi.
  4. Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya:

Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Prinsip  K e t u h a n a n !”….

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya   N e g a r a   Indonesia satu   N e g a r a   yang bertuhan!”

“Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan   dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Indera. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir : Pendawa lima). Pendawapun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah P a n c a   S i l a . Sila artinya azas atau d a s a r , dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Dari pidato Bung Karno di atas beliau menyampaikan bahwa setelah melakukan perenungan panjang dan meneliti kebudayaan yang berkembang di nusantara, dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan baik dari barat maupun dari timur, ternyata Bung Karno tidak mencoba mengambil pelajaran dari Imperialisme, Kolonialisme, Sosialisme, maupun demokrasi yang diterapkan di Yunani, Eropa, Amerika, Jepang dan sebagainya, akan tetapi Soekarno mengamati dengan seksama apa yang dibutuhkan bangsa kita, agar Indonesia setelah merdeka mampu menjadi negara besar, negara yang Berdaulat dalam politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, Berkepribadian dalam kebudayaan, dengan kata lain seperti halnya pertanyaan Najwa Shihab pada acara Mata Najwa di Metro TV, kepada Presiden ke V Indonesia Megawati Soekarno Putri “Apa yang ibu cita-citakan dan inginkan terhadap negara tercinta Indonesia?”, dengan berlinang air mata beliau mengucapkan INDONESIA RAYA.

Pancasila 1 Juni 1945 adalah penjabaran dari rumus, pola atau resep dari Trisakti Bung Karno, yang apabila kita benar benar mampu menggali, mengupas dan menerapkan harta karun ini maka akan terwujud Indonesia Raya dan akan “Melu Hamemayu Hayuning Bawono”, dengan kata lain dengan memecahkan rumus peninggalan Bung Karno maka akan tercapai kesejahteraan Indonesia, yang secara otomatis akan ikut andil menciptakan keindahan Dunia bahkan akhirat. Apabila Einstein memperkenalkan dalam pelajaran IPA khususnya Fisika berupa rumus e=mc2, untuk menciptakan bom yang membuat negara adikuasa berusaha menguasai jagad raya dengan mengancam akan menghancurkan negara lain yang tidak mengikuti perintahnya, sedangkan Soekarno memperkenalkan TRISAKTI = 5 Prinsip Pancasila 1 Juni 1945 = Indonesia Raya= Hamemayu Hayuning Bawono, yang biasanya akan kita temukan dalam pelajaran IPS khususnya mata pelajaran Sejarah, yang dalam pidato beliau mengungkapkan bahwa:

“Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang    k i t a   s e m u a   harus men-dukungnya.   S e m u a   b u a t   s e m u a !  Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, – s em u a   b u a t   s e m u a ! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan g o t o ng – r o y o n g . Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara g o t o n g   r o y o n g ! Alangkah hebatnya!   N e g a r a   G o t o n g R o y o n g ! (Tepuk tangan riuh rendah).

“Gotong Royong” adalah faham yang d i n a m i s , lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, b e r s a m a- s a m a !

Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. A m a l   semua buat kepentingan semua, k e r i n g a t  semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! (Tepuktangan riuh rendah).

Prinsip Gotong Royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, saudara-saudara, yang saya usulkan kepada saudara-saudara.

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Eka Sila. Tetapi terserah kepada tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila ataukah pancasila?”

Kesimpulan dari pidato Bung Karno diatas adalah dalam rangka menciptakan Indonesia Raya yang artinya Indonesia sampai kapanpun merupakan persatuan dari suku-suku, bahasa-bahasa, agama-agama, Partai Politik yang banyak ragamnya, Inilah Indonesia, kita tidak akan menjadi negara yang satu suku saja, satu agama saja, satu bahasa saja, akan tetapi inilah Indonesia suatu negara kepulauan yang berada tepat di garis katulistiwa dan itu tidak boleh berubah, karena atas dasar kesepakatan bersama nama Indonesia dipilih sebagai ganti nama Hindia Belanda sebelumnya, dan atas dasar kesepakatan pula kita membuat janji berupa Sumpah Pemuda, dan segala prasyarat pembuatan negara ini termasuk lagu kebangsaan, Undang-Undang Dasar, Lambang Negara dan lain -lain ditetapkan karena kesepakatan yang mengalami proses musyawarah panjang, debat, adu argumen antara tokoh agama, ahli politik, ilmuwan, budayawan, buruh, petani, marhaen-marhaen yang lain dalam memutuskan kesepakatan-kesepakatan tersebut. Oleh karena itu dengan tanpa merubah apa yang telah pendahulu sepakati, kita baru akan mampu menyelesaikan cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu Indonesia Raya.

Kita harus menyelesaikan tugas yang belum rampung seperti yang Bung Karno ucapkan “Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun ’33 saya telah menulis satu risalah, Risalah yang bernama ,,Mencapai Indonesia Merdeka”. Maka di dalam risalah tahun ’33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu    j e m b a t- a n     e m a s. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat”.

Inilah PR yang harus kita selesaikan yaitu menyempurnakan cita-cita leluhur bangsa Indonesia, untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, dan ini bisa terwujud bila kita mampu menjabarkan rumus Pancasila 1 Juni 1945, yang intinya hanya dengan Gotong Royong, dan ingat sekali lagi Indonesia tidak sama dengan negara lain dimanapun di bumi ini, Indonesia mempunyai perbedaan yang sangat mencolok, oleh karena itu strategi, sistem, tata cara atau rumus apapun tidak bisa diterapkan di Indonesia untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmurannya, akan tetapi Indonesia akan mampu mewujudkan cita-cita pendiri negara ini hanya dengan gaya dan strategi yang dimiliki Indonesia sendiri; saatnya kita kembali menekuni, mempelajari dan mengupas juga menerapkan peninggalan leluhur yang begitu banyak dan lebih cocok untuk menciptakan “Indonesia Raya”.

Sumber Pustaka:

LAHIRNYA PANCASILA, Penerbit Guntur, Jogjakarta, Cetakan kedua, 1949
Publikasi 28/1997 LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA

http://www.halalsociety.com/holy-quran-bahasa-indonesia

www.injilonline.com

TRISAKTI BUNG KARNO DALAM PEMBANGUNAN KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN


Apakah dalam Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan Indonesia perlu menerapkan Trisakti Bung Karno?, Kita akan mencoba kupas satu-persatu apa yang diharapkan Presiden pertama kita terhadap bangsa Indonesia dengan tiga wasiatnya tersebut, isi dari Trisakti Bung Karno adalah:

  1. Berdaulat dalam politik,
  2. Berdikari di Bidang Ekonomi,
  3. Berkepribadian dalam kebudayaan.

Bila kita membaca sekilas wasiat bung Karno ini merupakan pola atau resep membuat sebuah negara yang adil makmur sejahtera, gemah ripah, toto tentrem kerto raharjo dengan kata lain resep mencapai Indonesia Raya; seperti halnya sebuah resep membuat masakan, bila kita tidak mengikuti caranya atau stepnya dengan benar maka masakan itu akan hambar, keasinan atau justru malah tidak enak dimakan. Demikian pula halnya meskipun para leluhur kita telah memberikan pola berbangsa dan bernegara yang berbeda dengan bangsa lain di dunia, dan dari berbagai bumbu itu diramu menjadi satu dan dipermudah penggunaannya oleh Bung Karno sehingga kreasi baru untuk membentuk “Negara Berdaulat Adil dan Makmur” ala “nusantara” itu harus melalui step-step yang telah dirumuskan bapak Proklamator Indonesia yang terkenal dan diberi nama “Trisakti Bung Karno”; step-step inilah yang perlu dikaji secara mendalam oleh ilmuwan termasuk pelajar dan mahasiswa, budayawan, dan agamawan hingga terwujud segala cita-cita yang diharapkan leluhur kita. Dibawah ini kita akan mencoba mengupas makna tiap kata dalam TRILOGI Bung Karno.

BERDAULAT DALAM POLITIK

Apakah yang dimaksud dengan “berdaulat dalam politik” itu? Sebelumnya marilah kita memahami apa maksud dari “berdaulat itu sendiri yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata daulat yang artinya kekuasaan; pemerintahan, sedangkan berdaulat artinya mempunyai kekuasaan tertinggi atas suatu pemerintahan negara atau daerah: negara merdeka, kedaulatan: kekuasaan tertinggi atas pemerintahan negara, daerah, dsb. Sedangkan Politik dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah po·li·tik yang artinya 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tata sistem pemerintahan, dasar pemerintahan): bersekolah di akademi –; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Alangkah baiknya kita juga memahami beberapa definisi politik menurut beberapa ahli di bawah ini:

  • Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
  • Menurut Bluntschli, Garner dan Frank Goodnow menyatakan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari lingkungan kenegaraan.
  • Menurut Seely dan Stephen Leacock, ilmu politik merupakan ilmu yang serasi dalam menangani pemerintahan.
  • Dilain pihak pemikir Prancis seperti Paul Janet menyikapi ilmu politik sebagai ilmu yang mengatur perkembangan Negara begitu juga prinsip-prinsip pemerintahan, Pendapat ini didukung juga oleh R.N. Gilchrist.

Ditinjau dari ungkapan Aristoteles bahwa Politik merupakan suatu usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, maka dasar-dasar politik mutlak perlu dipelajari setiap siswa bahkan mulai dari Paud. Bagaimana cara seorang guru memperkenalkan Berdaulat dalam politik ini? Dalam setiap individu kita harus membebaskan keinginannya untuk mempelajari apa? dan menjadi apa?, biarkan mereka menentukan masa depannya sendiri, jangan ada intervensi dari luar termasuk dari orang tuannya dan gurunya sekalipun. Seperti halnya ketika seorang anak berumur 2 tahun memilih mainan di toko mainan dia akan memilih sesuai keinginan hatinya, biarkan anak itu memilihnya, kita hanya mengingatkan agar merawat dan memainkiannya dengan benar, juga ajarkan agar jangan pelit ajak teman bermain bersama-sama.

Dalam penelitian saya sejak mengajar dari tahun 2003-sekarang dimulai dari mengajar di tingkat SD, SMP (Pesantren) dan SMA-SMK (Pesantren dan Umum), perguruan tinggi, dan masyarakat umum , hampir setiap pertanyaan yang saya ajukan kepada mereka, contohnya mengapa mereka sekolah di Boarding School? jawaban mereka hampir 70%, karena mengikuti kemauan orang tua, disinilah letak salah satu contoh intervensi dari orang tua, sehingga banyak anak pesantren yang homesick pada awalnya, karena para guru memberi pemahaman maka sebagian besar dari mereka akan bertahan, sementara banyak juga yang melarikan diri dari sekolah karena merasa dikebiri atau berada dalam penjara. Pada usia SMP mereka tidak mengalami masalah hanya pada saat ditanyakan mau meneruskan ke SMA atau SMK dan jurusan apa? Rata-rata menjawab tidak tahu dan kebanyakan akan memilih SMK atau SMA Favorit, karena mengikuti tren atau saran bahkan perintah orang tua karena jurusannya bergengsi dan banyak perusahaan yang membutuhkannya. Setelah SMA atau SMK apabila mereka ditanyakan mengapa memilih jurusan misalnya otomotif, hampir 70% mereka akan menjawab “karena diajak temen”, “jurusan bergengsi dan disuruh orang tua”, “kata guru SMP matematika saya bagus makanya saya disuruh memilih jurusan ini dan setelah lulus bisa bekerja pada perusahaan yang gajinya besar”, padahal setelah lulus mereka tidak mau kotor karena memegang oli, bahkan untuk sekedar membuka mur atau baut ada yang terlihat sangat canggung, ada juga anak tamatan SMP yang gemar mengotak-atik Hardware komputer atau motor, tanpa ragu-ragu dan tidak takut kotor mereka membuka dan membersihkan dan mengganti oli mesin, akan tetapi karena nilai ujian nasionalnya (UN) khususnya matematika dan IPA rendah maka dia tidak diterima di jurusan otomotif atau komputer, sehingga dia memilih jurusan lain misalnya pertanian atau tata boga yang penting sekolah alasannya simpel karena jurusan itu kurang peminat pasti diterima, padahal setelah pulang sekolah dia tetep menggeluti bidang yang mereka gemari, bahkan setelah kuliahpun mereka banyak yang mengambil jurusan yang tidak sejalur dengan ijasah SLTA, sehingga pada tahap awal mereka akan mengalami kewalahan menerima materi kuliah, bahkan setelah luluspun mereka banyak yang bekerja tidak sesuai bidangnya. Banyaknya intervensi pola pikir pada diri anak oleh orang tuanya, keluarganya, gurunya dan lingkungannya mengakibatkan banyaknya siswa atau mahasiswa salah jurusan, letak kebebasan individu bangsa Indonesia sudah dijajah orang lain sejak lahir, sehingga secara garis lurus bila kita tarik ke dalam cita-cita Bung Karno, itulah faktor utama gagalnya “Berdaulat dalam politik”, jangankan dalam bidang politik untuk menentukan hidup saja sudah banyak diatur bahkan dipaksa mengikuti kehendak orang lain, bukan diarahkan atau dibimbing menuju usaha atau pekerjaan yang sesuai kemampuan dan passionnya, akan tetapi meskipun dengan bahasa lembut diarahkan dan dipaksa mengikuti kemauan orang tua, guru, teman atau lingkungan, artinya kedaulatan pribadi bangsa ini sudah tidak ada termasuk beragama yang harus mengikuti kemauan orang tuannya tidak mendalami agamanya sehingga dia merasa itulah agama yang tepat buat dirinya.

Hal inilah pentingnya Kedaulatan dalam setiap anak perlu ditanamkan mulai sejak dini, karena setiap individu mempunyai jenis kecerdasan dan kepribadian yang berbeda-beda, apabila kita mengetahui jenis kecerdasan dan kepribadian anak sejak dini maka orang tua akan lebih mudah mengarahkan anaknya menuju pekerjaan atau usaha yang sesuai dengan passionnya, demikian juga guru akan lebih mudah membimbing siswanya dan memberikan materi pengajaran kepada anak didiknya dan membiarkan mereka untuk memilih pendidikan dan pekerjaannya sesuai dengan passionnya. Apabila setiap warga negara mempunyai kedaulatan dalam pribadinya maka cita-cita negara Indonesia yang maju dan berdaulat dibidang politik akan tercapai, karena individu yang bebas dan mandiri menentukan passionnya akan membentuk pribadi yang kuat dan akan memberikan sumbangsih hasil keryanya secara maksimal kepada negara. Hanya dengan konsentrasi mengembangkan potensi dirinya, maka setiap individu telah membantu memberikan sumbangan yang berarti bagi negara, rakyat tidak dipaksa membantu negara untuk berkorban sebesar-besarnya akan tetapi menurut kemampuan yang dimiliknya saja, dan tidak menjadi beban bagi negara karena masih menganggur, atau justru menjadi sampah masyarakat yang mengganggu ketertiban umum.

BERDIKARI DI BIDANG EKONOMI

Apakah yang dimaksud dengan Berdikari di Bidang Ekonomi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berdikari /ber·di·ka·ri/ 1 cak berdiri di atas kaki sendiri; 2 ki tidak bergantung pada bantuan orang lain; sedangkan arti kata ekonomi /eko·no·mi/ /ékonomi/ Ek 1 ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (spt hal keuangan, perindustrian, dan perdagangan); 2 pemanfaatan uang, tenaga, waktu, dan sebagainya yang berharga; 3 tata kehidupan perekonomian (suatu negara); 4 cak urusan keuangan rumah tangga (organisasi, negara).

Dalam hal membuat Berdikari di Bidang Ekonomi, juga harus diperkenalkan kepada anak sejak dalam kandungan hingga selesai menempuh pendidikan tertinggi mereka, menanamkan jiwa mandiri pada anak bukan berarti menciptakan sosok manusia yang individualis, sehingga justru muncul: keserakahan, ketamakan dan nafsu ingin berkuasa yang tertanam begitu dalam pada manusia Indonesia, akan tetapi justru menanamkan pola pikir untuk melepaskan diri dari perbudakan dan penjajahan. Indonesia begitu bangganya mentargetkan 70% SMK dan 30% SMA, dengan tujuan anak setamat SMK langsung kerja, akan tetapi tamatan SMK ini hanya diserap oleh pabrik, dengan sebutan karyawan, buruh atau dengan kata kasarnya budak yang diperas keringatnya untuk kepentingan tuan yang empunya pabrik, sementara hampir 80% pabrik di Indonesia milik warga negara lain, dengan kata lain negara Indonesia 70% hanya mampu mencetak buruh yang akan diserahkan kepada warga asing untuk dijajah, padahal dengan jelas hasil kesepakatan leluhur yang membuat negeri ini merdeka adalah “mencerdaskan bangsa, ikut menjaga ketertiban dunia dan menghapuskan penjajahan dari muka bumi”.

Meninggalkan ajaran Trisakti Bung Karno yang mempunyai tekat akan “Berdikari di Bidang Ekonomi” ini diletakkan sebagai landasan nomer dua setelah “Kedaulatan”, hal ini dimaksudkan setelah anak kita mempunyai kedaulatan memilih jurusan yang membuatnya nyaman dan dapat mengembangkan kreatifitasnya maka diarahkan atau dibimbing dengan kemampuannya itu untuk memperoleh hasil dengan berkarya tidak tergantung kepada pasar atau orang lain, apabila wasiat ini tidak dilaksanakan maka sama saja mengembalikan bangsa kita ketangan penjajah, yang hari ini jumlahnya lebih banyak, oleh karena itu dalam membangun “Revolusi Mental Jokowi” harus merobah pola pikir bangsa melalui pendidikan yang menerapkan falsafah “Hamemayu Hayuning Bawono” bukan justru merusaknya, disinilah peran TRISAKTI Bung Karno tersebut yang harus dijabarkan dengan Pancasila 1 Juni 1945 dan UUD 1945, strategi mendidik bangsa ini harus menerapkan tata cara ajaran Tuhan yang telah diterima bangsa Indonesia, oleh karena itu saya tegaskan sekali lagi Pendidikan Indonesia harus dirobah polanya dari mengikuti standar Internasional menjadi Standar Tuhan yang telah diterapkan nenek moyang kita jauh sebelum penjajah menapakkan kakinya di negara kita, yang kelak kita berharap bangsa Indonesialah yang paling pantas mengajarkan dan menyandangkan predikat kepada bangsa lain sebagai Khalifah yang Rahmatan Lil Alamin, setelah bangsa ini pantas menjadi Khalifah pertama di bumi. Apakah standard manusia menurut Tuhan itu? Intinya standar manusia Indonesia harus menggunakan Pancasila mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa.

Baik Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha, Kong Hu Tju, Shinto, Penganut Kepercayaan; semua tidak mengajarkan permusuhan akan tetapi mengajarkan: kebaikan, keindahan, kebersamaan, toleransi, gotong royong dan lain – lain, oleh karena itu standar yang dimaksud untuk menjadi manusia Indonesia dan siap menjadi bangsa Indonesia harus: Mempunyai Tuhan, Siap menjadi manusia yang adil dan beradab, Siap bersatu denga agama apapun, suku apapun, bahasa apaun dan perbedaan apapun tidak menjadi penghalang untuk mengadakan musyawarah, karena bangsa Indonesia harus mempunyai standar siap dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan serta siap mewujudkan suatu keadilan bagi seluruh rakyat minimal dilingkungan dia tinggal.

Apabila standard ini dipenuhi maka keinginan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia akan tercapai, jadi merupakan kesalahan besar bila kita menstandarkan diri dengan negara lain, karena kemampuan bangsa ini untuk menguasai tehnologi sangat cepat, akan tetapi menguasai dan menerapkan mental untuk menjadi manusia yang bermanfaat buat orang banyak sangat mengalami kesulitan, setelah mereka menjadi ahli maka yang ada dalam jiwanya tinggal bagaimana memperoleh harta, wanita dan tahta, sementara ikhlas untuk bersedekah, menyumbang, berderma terkikis habis dalam tubuhnya, karena standar Eropa dan Amerika adalah menjadi manusia kapitalis yang tidak perduli dengan kemakmuran dan kesejahteraan orang lain akan tetapi yang penting dirinya, kelompoknya dan negaranya tidak kelaparan dan berusaha tetap kokoh berdiri sebagai negara super power meskipun harus mengorbankan bangsa lain. Dan hari ini jiwa itu tertanam sangat dalam pada setiap individu bangsa Indonesia, mereka lebih suka tawuran demi daerah kekuasaannya untuk memperoleh sumber keuangan keluarga dan kelompoknya dari pada bermusyawarah dengan baik – baik.

Standar Internsaional yang selama ini kita kembangkan justru menumbuhkan sosok bangsa Indonesia yang palsu atau imitasi, karena bangsa Indonesia yang ramah, baik, bijak dan bersahabat serta bersatu gotong royong demi kesejahteraan bersama dikikis oleh jiwa kapitalis yang individualis, angkuh, cuek, tidak perduli walau harus mengorbankan teman atau saudara. Oleh karena itu saatnya kita kembalikan bangsa ini kepada tujuan semula, dari awal para pahlawan kita memperjuangkan terwujudnya Indonesia Merdeka tujuannya adalah: bangsa yang ber-Tuhan, menciptakan kerukunan, perdamain, persahabatan, kesejahteraan bersama dan kemakmuran bersama intinya punya jiwa “gotong royong” itulah standar bangsa Indonesia yang harus kita capai, bukan standar Internasional. Biarkan bangsa lain belajar bergotong royong kepada Indonesia karena meskipun banyak perbedaan hanya Indonesialah yang mampu menyatukan dan mendamaikannya, Indonesia yang pantas memberikan hadiah perdamaian kepada orang dan bangsa lain karena sudah berabad-abad bangsa ini teruji akan persatuan dan perdamaiannya, bangsa lain yang senang bertikai dan berebut kekuasaan bahkan senang memamerkan persenjataannya juga memamerkan keindahan tubuh, bahasa dan lain-lain yang lebih mementingkan kesombongan tidak pantas menyematkan hadiah nobel perdamaian kepada warga atau negara lain, mereka tidak akan sanggup bersatu dalam damai begitu lama seperti bangsa Indonesia, oleh sebab itu sekali lagi saya tekankan “hanya Indonesia” yang seharusnya menyematkan penghargaan “perdamaian” kepada perorangan, kelompok atau negara lain, karena hanya Indonesia yang mampu dan telah melaksanakan perdamaian itu dengan baik dan teruji begitu lama.

BERKEPRIBADIAN DALAM KEBUDAYAAN

Marilah kita mencoba menafsirkan wasiat ketiga pemimpin kita ini yaitu: Berkepribadian dalam kebudayaan, dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, pribadi /pri·ba·di/ n 1 manusia sebagai perseorangan (diri manusia atau diri sendiri); 2 keadaan manusia sebagai perseorangan; keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak orang; kepribadian /ke·pri·ba·di·an/ n sifat hakiki yg tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain, yang diawali dari kata ber yang artinya mempunyai, sehingga arti kata berkepribadian yang dimaksud dalam Trisakti tersebut adalah mempunyai sifat yang berbeda dengan orang lain atau bangsa lain. Kemudian apa arti Kebudayan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia? kebudayaan /ke·bu·da·ya·an/ 1 hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; 2 Antara keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Step ketiga ini sebenarnya sangat mudah diterapkan karena di Indonesia kita mempunyai Kebudayaan yang banyak dan mempunyai nilai-nilai luhur untuk menciptakan “Manusia” yang ikhlas membangun bumi “Hamemayu Hayuning Bhuwono” hanya ditujukan kepada Sang Hyang Widi Wasa. Oleh karena itu setiap pembelajaran jangan pernah melupakan arti pentingnya menerapkan pola budaya yang telah dianugerahkan kepada negeri tercinta Indonesia. Indonesia meraih gelar The best National Costume, karena kostum dari berbagai adat dan budaya bangsa Indonesia sangat dikagumi bangsa lain, baru dari kostum atau busana saja mereka bisa “melongo/bengong” apalagi bila mereka mempelajari kebudayaan kita yang mengandung filsafat yang mengarahkan manusia untuk tidak serakah, tidak semena-mena, tidak memaksakan kehendak akan tetapi kebudayaan Indonesia mengarahkan Individunya untuk bermusyawarah untuk mencapai mufakat, bersatu dan berbagi dengan adil, nrimo ing pandum atau menerima dengan ikhlas dan bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya dari Tuhan, intinya budaya Indonesia mulai dari baju, tata krama dan lain lain hanya mengajarkan perbuatan baik. Apabila anda datang dan berkunjung ke rumah orang yang berasal dari Batak, Maluku atau Papua yang nada bicaranya tinggi, akan tetapi mereka akan mempersilahkan masuk dan menyuguhi sekedar sajian yang mereka miliki meskipun hanya air putih, begitu pula bila kita datang bertamu ke suku-suku lain di Indonesia, dengan penuh damai tanpa curiga mereka akan menyambut kita meskipun kita datang dari keluarga biasa.

Kepribadian inilah yang harus kita tawarkan kepada negara lain untuk belajar bagaimana menjadi orang baik, menghargai pendapat orang lain, bersyukur, bersatu, bergotong royong, bermusyawarah dan lain-lain; semua akar budaya itu tumbuh sangat subur dan berkembang di Indonesia, lalu mengapa kita memilih kurikulum bersetandar internasional? Mengapa kita mengingkari kelebihan yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia, mengapa harus kita jual kemewahan kepada turis dari Eropa, Amerika, Korea Selatan, Australia dan Jepang atau negara lain? Bukankah mereka negara yang banyak bertanya dan pengin tahu? Mengapa kita tidak tantang mereka mencoba menjadi warga biasa di Indonesia tidur seatap denga warga miskin, dibalai-balai atau kasur kapuk yang bau, tantang mereka berapa lama mereka mampu menjadikan dirinya ramah terhadap orang lain dan alam, seperti orang Indonesia, mampukah mereka tetap menggunakan baju yang rapat dan tertutup meskipun udaranya panas, karena mampu menyatukan suhu tubuh dengan suhu alam Indonesia? Hanya dengan dolar sedikit mereka bisa dan mampu hidup sebulan atau lebih di Indonesia, tapi bila ke Indonesia hanya untuk tidur ditempat mewah mending tidak usah datang ke Indonesia, karena Indonesia hanya tempat buat Turis Asing yang siap menerima tantangan bukan turis manja. Kita akan tantang mereka mampukah tetep tersenyum hidup dalam kesederhanaan? Inilah kepribadian kebudayaan Indonesia yang akan kita tawarkan kepada mereka agar mereka hidup tetap dalam garis Tuhan dan tidak Tamak, Rakus, Sombong dan Arogan seperti bangsa Indonesia yang selalu baik, ramah dan tersenyum meskipun hidup dengan sederhana, berikan pemahaman kepada mereka bahwa bangsa Indonesia yang serakah, tamak, sombong, angkuh, memaksakan kehendak adalah buah penerapan bangsa ini meniru bangsa asing dengan slogan “standadard International” yang jauh lebih rendah dibanding standard yang dimiliki Indonesia.

Sudah menjadi kewajiban bangsa Indonesia untuk menerapkan ajaran Trisakti Bung Karno, Pancasila 1 Juni 1945 dan UUD 1945 yang akan kita gunakan untuk ikut serta dalam membuat keindahan, kemakmuran, kesejahteraan Dunia dan Akhirat. Dengan menerapkan dan menafsirkan ajaran-ajaran leluhur kita diharapkan mampu mewujudkan cita-cita leluhur bangsa Indonesia yaitu “Hamemayu Hayuning Bhuwono” jadikan bangsa lain belajar dari Indonesia bukan kita belajar kebobrokan dari mereka. Hanya Indonesia yang siap menerima dan menerapkan semua perbedaan dan saling menghargai dengan baik. Sekali lagi hanya Indonesia yang punya hak menghadiahkan penghargaan Perdamaian bila mereka mampu berperilaku seperti bangsa ini. Ke negara manapun anda pergi bawa pribadi anda, sebagai warga negara Indonesia, beragama apa, dari suku apa, dan cara berpakaiannya, serta tata kramanya, apabila anda datang ke Paris menggunakan pakaian adat dari suku anda di Indonesia “semua mata akan tertuju kepadamu” bukankah itu yang slogan Miss Univers? Dan hanya perbedaan yang mumbuat manusia ingin melihat dan pengin tahu lebih banyak; bila kita ke Tokyo menggunakan kimono siapa yang tahu kalau kita warga asing dan itu Indonesia yang kita banggakan?, dan bila mereka tertarik ajak mereka untuk mengunjungi Indonesia dan tantang mereka mampu nggak menjadi manusia baik dan bertata krama tinggi?, kuat berapa lama mereka menjadi orang yang merakyat? dan sejauhmana mereka sanggup menguasainya?, sampaikan kepada bangsa lain dolar di Indonesia sangat tinggi harganya sehingga mereka boleh tinggal berlama-lama di Indonesia untuk mempelajari budaya Indonesia, sampaikan kepada turis asing agar membawa ajaran kebaikan Indonesia ke negaranya. Dan itulah salah satu cara bangsa Indonesia menerapkan ilmu “Melu Hamemayu Hayuning Bawono” sehingga leluhur kita di akhirat, akan tersenyum puas melihat keberhasilan kita menduniakan Indonesia, amin…amin…amin.

Sumber:

http://kbbi.web.id

http://id.wikiquote.org/wiki/Soekarno

http://ghostrazieneramochin.wordpress.com/2010/01/25/dasar-dasar-ilmu-politik/

PEMBANGUNAN SEKTOR KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN INDONESIA KELUAR DARI TUJUAN LELUHUR KITA, MENDIRIKAN NEGARA INDONESIA

Muhammad Urip Budi Raharjo

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Ruum Ayat : 41)

Bencana longsor Banjarnegara yang terjadi di akhir tahun 2014 merupakan isyarat dari Tuhan agar bangsa Indonesia dengan presiden barunya harus mengajak rakyatnya untuk membangun hidupnya kembali hanya ditujukan untuk Tuhan. Masyarakat Indonesia sangat percaya kepada Tuhan akan tetapi menetapkan tujuan hidupnya hanya untuk Harta, Kekuasaan dan Wanita, oleh karena itu saatnya memperbaiki dan kembali merevisi semua tujuan hidup manusia Indonesia ini. Dari ayat pembuka diatas diisyaratkan kepada kita agar manusia kembali ke jalan yang benar, gaya hidup yang benar atau way of life yang benar. Oleh karenanya dalam memperbaiki dan mengupayakan Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan di Indonesia, tidak boleh lepas dari ajaran-ajaran agama, ajaran leluhur atau budaya dan ajaran yang ada di fenomena alam. Karena dalam pembangunan dua sektor ini akan sangat berpengaruh kepada seluruh sektor pembangunan lainnya. Agar dalam memperbaiki kedua sektor ini tidak kebablasan, bahkan justru akan menambah kerusakan yang selama ini telah terjadi, maka perlu menggali, mencari, mempelajari dan membuka satu persatu; seperti apa?, apa tujuannya? dan bagaimana menerapkan ajaran leluhur kita itu?; kita harus berani tampil beda dimata dunia, cara-cara barat yang sudah sekian lama kita coba mengadopsinya untuk membuat manusia berstandar internasional yang bertujuan mempercepat pembangunan Indonesia, sudah berhasil, akan tetapi hasilnya justru lebih banyak hal buruknya yang tercapai seperti cara berpakaian, gengsi, bertutur kata yang tidak sopan, individualisme dan bahkan mengarahkan Indonesia menuju jurang kehancuran.

Kita mencoba mengambil pepatah dari negara China “Xue ru ni shui xing zhou, bu jin ze tui”, “Belajar seperti Perahu melawan arus, kalau tidak maju berarti mundur”. Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan Indonesia lebih menunjukkan mengikuti arus bukan menentang arus makanya tidak memperoleh hasil yang baik. Mulai hari ini kita harus bawa bahtera Indonesia untuk melawan arus, budaya dan ilmu barat yang begitu deras menerjang Indonesia, jusru akan kita lawan dengan budaya asli Indonesia, selama ini kita justru kebawa arus budaya mereka, kita berusaha mengatasi persoalan dengan strategi bangsa asing. Jepang bisa maju karena mengembangkan dan memperkenalkan budaya disiplin, gigih dan tanpa mengenal lelah yang dimiliki negara tersebut, sehingga mereka mampu berdiri sama tinggi dengan negara-negara barat, demikian pula yang dilakukan oleh China dan Korea Selatan; Indonesia justru punya budaya yang lebih banyak, beragam dan sangat tinggi nilainya akan tetapi justru mengembangkan budaya barat hampir 80%, dan meskipun budaya barat menerjang seperti gelombang tsunami, ternyata budaya Indonesia tetap ada dan tidak banyak berubah, oleh karena itu kita akan membangun Kemanusiaan dan Kebudayaan Indonesia dengan apa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri, bukan meminjam dan menerapkan budaya bangsa lain, meskipun ada beberapa yang kita akan ambil pelajaran tetapi yang baiknya bukan justru sebaliknya, dengan upaya sekeras apapun dan menggunakan modal sebesar apapun untuk meniru budaya barat atau budaya negara lain yang lebih dahulu maju dalam segala bidang, tetap saja Indonesia tidak bisa seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jepang maupun negara manapun, bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia, jangan puas menjadi bangsa imitasi, kita punya originalitas, oleh karena itu marilah kita menggali dan membedah kembali ajaran atau rumusan yang diwariskan nenek moyang kita.

Meskipun Einstein mengatakan “Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta” akan tetapi kebanyakan ilmuwan yang menggali dan membuktikan kebenarannya justru menggunakan rumus E=mc2 untuk menghancurkan bumi, ajaran nenek moyang kita justru sebaliknya yaitu menciptakan keindahan Bumi, Perdamaian Dunia, Kemakmuran Dunia dan ikut menjaga ketertiban Dunia, dimana ajaran itu dalam buku Memayu Hayuning Bawono yang di tulis oleh Bapak DR. Budya Pradipta “Melu Hamemayu Hayuning Bawono” yang artinya mengusahakan atau mengupayakan Keselamatan, Kebahagiaan, perdamaian dan Kesejahterann Hidup di Dunia dan Akhirat, atau bisa juga bermakna Ikut Membuat Indahnya Dunia, baik secara perilaku (rohani) maupun fisiknya. Bahkan ajaran ini secara mendalam juga memberikan pola hidup damai, sejahtera dengan menjadi manusia utama yang bekerja tanpa pamrih, yang dalam bahasa Jawa “Memayu Hayunig Bawono (credo) Sepi ing pamrih rame ing gawe (tidak punya kepentingan dan sibuk bekerja), Sastro Cetho Harjendro Hayuning Bumin (dengan giat dan terus menerus berusaha membangu dunia baik secara fisik maupun jiwa/rohaninya”.

  • Bawono Alit (alam kecil) dalam membangun perdamaian dan kesejahteraan dimulai dari diri, keluarga dan lingkungannya.
  • Bawono Agung (alam secara luas) yg berati ikut terlibat dalam membangun di lingkungan masyarakat, bangsa, negara dan international (global)
  • Bawono Langgeng (abadi) adalah alam akhirat

Lebih lengkapnya ungkapan jawa itu adalah: Hamemayu Hayuning Bawono, Ambrasto dhur angkoro (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak). Beberapa contoh ilmu leluhur kita yang berasal dari Jawa dan sangat bagus untuk diajarkan kepada seluruh manusia di Indonesia dan Dunia pada umumnya, diantaranya adalah: Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, dalam peperangan di tanah leluhur kita untuk menaklukkan bangsa lain bukan dengan membawa pasukan bersejata dan mencari lawan akan tetapi datang sendirian untuk melakukan perundingan atau diplomasi dan meningkatkan silaturahim untuk menumbuhkan jiwa persahabatan, sehingga tercapai kesepakatan bilateral atau multilateral tanpa harus mengeluarkan otot apalagi senjata sehingga tidak membuat teman bicara merasa direndahkan; Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondho artinya Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman artinya Jangan terobsesi atau terkungkung keinginan memperoleh kedudukan/kekuasaan, kebendaan/harta dan kepuasan duniawi/seks. Ojo Milik Barang Kang elok, Aja Mangro Mundak Kendo=Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat. Urip Iku Urup = Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

Jelas sekali ajaran leluhur kita berlawanan dengan ajaran barat, mereka mengajarkan kesombongan, kemunafikan, keserakahan dan keangkara murkaan dan dengan terang-terangan sering menggunakan kedok agama demi tercapainya keinginan mereka, mereka sering memaksakan kehendak demi harta, tahta dan wanita, sementara ajaran nenek moyang kita mengajarkan seperti pepatah dari Batak ini “Jolo suhat do anso poring, Dungi dope na boboion yang artinya: Lebih dahulu keladi- baru keladi gatal,Baru setelah itulah yang dikatakan “boboion

Maksudnya adalah: Jangan menunjukkan kekuatan dan memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain.

Ilmu-ilmu warisan leluhur diatas hanya hasil dari setetes tinta yang digoreskan nenek moyang kita, yang ditujukan untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita mempunyai beribu-ribu suku yang mempunyai peninggalan keilmuan dan pola hidup berbeda-beda akan tetapi bertujuan sama yaitu perdamaian dan kesejahteraan. Pekerjaan Rumah buat generasi Indonesia hari ini untuk meneliti, memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari ajaran leluhur masing-masing suku, adat dan budayanya. Rumus-rumus yang ditinggalkan nenek moyang bangsa-bangsa dari negara barat telah ditemukan rahasiannya dan hasilnya hanya merusak bumi, sedangkan rumus atau pola yang ditinggalkan nenek moyang kita perlu dikaji dan diuji agar terwujud keindahan, keelokan, kedamaian dan kesejahteraan di seluruh muka bumi seperti yang diharapkan para leluhur kita.

Indonesia mulai menelan bulat – bulat strategi barat untuk membangun Indonesia sejak tahun 1968 yaitu dimulainya penerapan kurikulum pendidikan yang diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan fisik yang sehat dan kuat, inilah yang menyebabkan turunya peradaban bangsa kita sendiri, materi pembelajaran lebih banyak bahkan mencapai 80% lebih diarahkan untuk mengupas ilmu-ilmu barat yang hanya meningkatkan kemampuan fisik, sedangkan kemampuan mental hanya 20% bahkan kurang dari itu, pendidikan ala barat yang terus ditumbuh kembangkan menciptakan generasi yang keluar dari tujuan didirikannya negara ini yaitu manusia yang berkarakter gotong royong, hasil penerapan ilmu barat banyak menumbuhkan karakter buruk pada bangsa ini, diantaranya individualisme, memaksakan kehendak dengan demonstrasi, arogan, tidak punya tata krama bahkan hingga penampilan juga lebih distandardkan dari dunia luar, tidak seperti Korea Selatan, Jepang, India dan China bahkan Malaysia yang mempelajari budayanya terlebih dahulu kemudian dikembangkan agar bisa disesuaikan dengan perkembangan dunia. Indonesia yang kaya akan budaya justru dikikis dengan budaya Amerika dan Eropa. Pelajar di Indonesia akan bangga bila mengusai rumus-rumus fisika dan matematika dari pada mempelajari dan menerapkan filsafat yang terkandung dalam kebudayaan yang sangat banyak itu.

Buku-buku dan ajaran Mahatma Gandhi, Jawaharal Nehru dan ilmuwan India lainnya dikupas dan dipelajari di sekolah-sekolah India, buku dan ajaran pemimpin China yang hampir selalu mempelajari jiwa manusia dan menulis beberapa teks kuno, seperti I Ching dan Tung Shu dan lain-lain, di kupas oleh pelajar-pelajar China, sedangkan Indonesia justru bangga dengan memahami rumus Einstein, Pythagoras dari pada memahami dan mempelajari filsafat Mpu Tantular, Mpu Prapanca, buku – buku Ir Soekarno, Muhammad Yamin, Pramoedya Ananta Toer dan masih banyak ilmuwan yang handal dari negara kita sendiri. Oleh karena itu jangan heran apabila generasi kita banyak mengusai ilmu-ilmu fisik/raga atau kanuragan tapi tidak menguasai ilmu kebathinannya/rohaninya/mentalnya dan setelah mereka menguasai tehnologi berakibat menjadi manusia sombong, angkuh dan hanya memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan sendiri, gotong royong dan bermanfaat untuk orang banyak terkikis keseluruhan dari jiwa generasi muda Indonesia, pepatah yang mengatakan “Pakailah ilmu padi yang semakin berisi semakin merunduk” artinya semakin menguasai ilmu semakin bijaksana tidak bisa diwujutkan apabila kurikulum Indonesia masih mengadopsi 90% dari negara lain, karena justru mencetak generasi yang “tong kosong nyaring bunyinya” tidak mau berkarya akan tetapi justru banyak bicara bahkan mempengaruhi orang lain untuk membenci orang lain, pamer, dan memperlihatkan keberhasilannya bahkan beribadahpun di muat dalam statusnya di media sosial demi kesombongannya.

Kehancuran karakter bangsa Indonesia karena dalam mendidik generasinya menerapkan ilmu “Kacang Lupa Kulitnya”. Semoga Kementrian dibawah koordinator Kemanusiaan dan Kebudayaan segera menyadari akan hal itu agar dengan berani segera merobah tatanan hidup bangsa ini yang banyak menjiplak ilmu dan tata cara luar, dengan berusaha merubah pola pikir yang meniru gaya barat dan merubah fisik dari kulit coklat menjadi putih dan rambut dicat warna – warni, yang justru menciptakan generasi imitasi “bule” tapi kecil dan berperilaku individualisme yang lebih menonjolkan sifat pamer dan kesombongan bahkan arogan, lebih baik kita menonjolkan keaslian kita yaitu berkulit sawo matang, berambut hitam, ramah, berjiwa gotong royong dan selalu memberi manfaat untuk orang banyak, itulah bangsa Indonesia yang asli; individualis, arogan dan demonstrasi merupakan ilmu barat yang berhasil ditanamkan melalui penerapan kurikulum yang bersetandar internasional yang menghasilkan generasi yang tidak suka musyawarah, suka memaksakan kehendak dan selalu berpikir bahwa tujuan hidupnya hanya untuk memperoleh kekuasaan, harta dan wanita atau pria bagi wanita karir, lebih baik bangsa ini segera menyadari bahwa kita adalah bangsa besar yang punya standar sendiri, punya etos kerja sendiri dan punya mind set asli Indonesia yaitu manusia berkarakter gotong royong demi terwujutnya cita-cita leluhur Indonesia yaitu melu Hamemayu Hayuning Bawono bukan justru merusak dunia atau bumi yang kita huni ini.

Menguasai tehnologi bangsa Indonesia sangat ahli, bahkan anak 3 tahun dengan cepat mampu mengoperasionalkan gedjet dan aplikasi perangkat lunak dalam komputer, handphone dan lain – lain, mengapa kita harus membuat sendiri? kita diciptakan oleh Tuhan sebagai Raja yang menggunakan hasil tangan hamba sahayanya, mengapa kita harus membuat mobil, handphone, motor sendiri bila kita bisa membelinya? Lebih baik kembali bersyukur bahwa kita dianugerahi Tuhan berupa: tanah subur, siang dan malam yang seimbang, udara yang seimbang dengan suhu tubuh manusia dan banyak keseimbangan lain yang ada di negara kita, kodrat kita adalah menanam pohon dan memelihara binatang dan mengembalikan keseimbangan ekosistim dunia mulai dari negara kita, kita tidak akan miskin dan sengsara bila kita konsentrasi pada pengembangan produk pertanian dan perikanan, kita cukup sebagai pengguna tehnologi tidak perlu memaksakan generasi kita untuk mampu menguasai cara membuatnya yang berakibat akan menjadi serakah untuk menguasai pasar dunia. Dengan kembali kepada apa yang diberikan kepada kita oleh Tuhan maka secara otomatis sifat manusia akan tumbuh dan berkembang pada generasi kita. Kita tidak menginginkan generasi yang berfisik manusia tapi berkarakter binatang atau bahkan “SETAN”.

Daftar Pustaka:

http://kariyan.wordpress.com/2010/10/24/ngurip-uripi-ageming-adji-agama/#more-353

http://zakysyouri.blogspot.com/2010/08/hamemayu-hayuning-bawono.html

http://www.halalsociety.com/holy-quran-bahasa-indonesia