PEMBANGUNAN KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN HARUS TERINTEGRASI

Part 3

Kita akan membahas bagaimana menerapkan dan mewujudkan Trisakti Bung Karno dalam kehidupan nyata, sesuai dengan prinsip pertama Pancasila 1 Juni 1945 adalah “Kebangsaan”, maka dalam mewujudkan negara sesuai cita-cita leluhur kita ini, yang paling utama sebelum membangun di sektor lainya kita perlu membangun dari sisi Kebangsaan kita, membicarakan Kebangsaan tentu tidak lepas dari Sumberdaya Manusianya. Dalam investasi bidang Sumberdaya Manusia ini membutuhkan modal yang sangat besar dan hasilnya tidak bisa dinikmati dengan instan, akan tetapi hal ini sangat mendasar. Oleh karenanya titik berat mewujudkan negara yang bisa disegani negara lain hanyalah dengan mengutamakan berinvestasi dalam Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan secara besar-besaran. Untuk mewujudkan Manusia Indonesia yang berbudi luhur ini, maka Pembangunan Manusia tidak bisa dipisahkan dengan Pembangunan Budaya, akan tetapi harus terintegrasi atau bersamaan.

Kunci utama dalam rangka perbaikan ini kita harus mensucikan hati untuk menerima ajaran-ajaran positif yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu dalam masalah ini akan kita kupas ajaran-ajaran Tuhan yang diterima dan berkembang dengan baik di masyarakat kita, mulai dari apa yang telah Tuhan berikan kepada manusia khususnya bangsa Indonesia. Kita coba memulai dengan membuka isi ayat suci dalam Kitab-Kitab Agama dan Kepercayaan yang ada di Indonesia, diantaranya:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72)

Setelah bangsa Indonesia diberikan amanat dari Tuhan, yaitu “Kemerdekaan Indonesia”, seperti wasiat Bung Karno “Kemerdekaan hanyalah Jembatan Emas”, apa yang terjadi sekarang? Karena kita zalim dan bodoh, meninggalkan apa yang sudah kita miliki, menghianati amanat dari Tuhan, mengikari betapa muliannya ajaran-ajaran yang berasal dari leluhur kita sendiri dan itu semua yang mengakibatkan Bangsa Indonesia jadi banyak hutang, banyak rakyat miskin, pendidikan “nampak” tertinggal jauh dengan negara-negara lain, bahkan meskipun kita mencoba menerapkan tehnologi industri tingkat tinggi kita justru semakin jauh tertinggal dan terpuruk, karena sesungguhnya Tuhan justru menganugerahkan kita banyak ilmu – ilmu sosial yang lebih baik dibandingkan ilmu pengetahuan alamnya dan Indonesia akan menjadi sorotan dunia apabila kita justru memperdalam dan mensosialisasikan Ilmu Sosial yang dimiliki bangsa Indonesia, karena bangsa Indonesia bangsa paling plural, paling toleran, dan mempunyai cara pandang berbeda dalam bermasyarakat dan bernegara dari negara-negara lain di manapun, akan tetapi justru kita meninggalkan cara-cara itu, dan hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang ini. Lebih lanjut kita coba tafsirkan Firman Allah di bawah ini:

“Al Israa:70 Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

Dengan begitu jelas Tuhan menganugerahkan kelebihan bangsa Indonesia berupa alam dan Kebudayaan yang begitu luhur yang bernilai sangat tinggi, tetapi Indonesia justru banyak mengadopsi ilmu-ilmu dan tehnologi dari barat, Tehnologi adalah kelebihan mereka, sementara Kebudayaan dan alam yang subur adalah kelebihan bangsa Indonesia, inilah yang harus kita kembangkan dan kita perkenalkan kepada negara lain, apabila Jepang di sekolah – sekolahnya diwajibkan mengajarkan untuk menegur teman sebangku, sekelas, tetangga, dan menegur makhluk di sekitarnya pada lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal mereka, Indonesia tidak perlu belajar hal itu, akan tetapi secara otomatis anak baru lahir saja setelah menangis beberapa detik, dia langsung ramah dengan lingkungannya, karena bayi merah Indonesia sudah belajar tersenyum menyapa orang di sekelilingnya, bangsa Indonesia-lah yang paling ramah dengan lingkungan, mau berbicara dengan kucing, anjing atau binatang dan pepohonan yang tumbuh disekitarnya, orang Indonesia selalu mengagumi keindahan alam, bangsa Indonesia bisa tinggal seatap meskipun mereka beda suku, beda agama, beda warna kulit, mereka justru saling berbagi cerita, berbagi makanan, berbagi tempat tinggal, mereka saling menghormati satu sama lain, bahu membahu, tolong menolong dan gotong royong menciptakan keharmonisan lingkungan tanpa aturan yang tegas, tanpa imbalan hadiah, tanpa ancaman, dan tidak diintimidasi siapapun agar mereka bisa rukun; akan tetapi mengapa justru kita mengadopsi Ilmu barat , cara-cara barat, budaya barat yang menghancurkan alam dengan nuklirnya?, keserakahannya?, individualismenya? dan lain – lain yang justru merusak budaya kita sendiri.

Sudah selayaknya hanya bangsa Indonesia yang seharusnya mendapatkan nobel perdamaian, karena orang asing akan belajar harmonisnya keluarga di Indonesia, rukunnya bertetangga, toleransinya umat beragama, dan hanya ada di Indonesia budaya Gotong Royong itu tertanam begitu mendalam. Marilah kita kembali back to nature, back to our original culture, back to Structure to get the best our Future, itulah yang akan kita ajarkan kepada bangsa lain, yang hari ini mereka justru berlomba memamerkan keegoisan, kesombongan dan kepongahan tehnologi mereka, kita ini “berbeda”, “berbeda” sekali lagi “berbeda”, sudah seharusnya PBB yang memimpin Indonesia, karena Indonesia yang mampu mendamaikan berbagai suku, agama, bahasa dan ras!!!!!, kita bukan negara pendendam, Indonesia tidak pernah memusuhi Malaysia meskipun telah merebut pulau-pulau kita, Indonesia tidak membenci Timor Leste meskipun mereka berontak, bahkan Indonesia tidak pernah dendam atau memusuhi Belanda, Portugis dan Jepang yang pernah menjajah dan menguras kekayaan Indonesia, merka akan menyesal kelak karena telah berlaku kurang baik terhadap bangsa Indonesia yang penuh damai ini, kita selalu berdamai dengan siapapun dari bangsa, suku, agama, ras apapun, karena Indonesia adalah Miniatur Dunia. Hanya Indonesia yang bisa seperti ini, letupan-letupan kecil hanya akibat ajaran barat yaitu keserakahan manusia yang ingin menguasai sebuah wilayah, Indonesia tidak punya budaya itu, bangsa Indonesia mempunyai budaya saling berbagi, pertempuran dalam Pemilu, Pilpres, dalam tubuh organisasi masyarakat ataupun organisasi politik dan di gedung DPR-MPR berakhir dengan perdamaian, sekali lagi hanya ada di Indonesia, kita harus ajarkan ini kepada mereka yang punya hobi bertikai, negara lain tidak pantas memberi hadiah nobel perdamaian, karena mereka tidak tahu apa arti perdamaian yang sebenarnya, akan tetapi Indonesia yang berhak memberikan hadiah perdamaian itu, jadi jelas Indonesia tidak perlu mengharap nobel perdamaian, akan tetapi yang seharusnya memberikan hadiah perdamaian bagi perorangan, kelompok dan negara manapun yang mencoba menerapkan perdamaian; mereka harus belajar bermasyarakat yang penuh kedamaian dan berbudaya dari bangsa Indonesia.

Kita telah diusir dari surga oleh Tuhan, gara-gara menerapkan cara-cara orang barat membangun Kemanusiaan dan Kebudayaan, kita jadi terpuruk karenanya, oleh sebab itu kita harus membuka lagi petunjuk dan mencari jejak cara bagaimana menciptakan kesejahteraan dan perdamaian yang diajarkan Tuhan kepada kita, diantaranya dalam Al Qur’an “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S al-Baqarah : 38).

Dari ayat di atas meskipun kita berada dalam kesusahan atau keluar dari surga, perintah Tuhan agar bangsa Indonesia mengikuti perintah-Nya, karena di Indonesia saja yang bisa menerima dan menerapkan ajaran agama apapun dan kepercayaan kepada Tuhan dengan baik, Kita tidak boleh meninggalkan ajaran agama dan tidak boleh memisahkan antara pemerintah dalam mengambil kebijakan dengan memandang sebelah mata agama dan kepercayaan yang sudah mendarah daging di negara ini. Negara lain berusaha menjadi negara sekuler karena menganggap agama dan kepercayaan itu biang permusuhan dan kehancuran, kita akan buktikan bahwa itu tidak benar!!!!, agama dan kepercayaanlah yang membuat perdamaian, kebaikan dan keharmonisan. Kita pernah berjaya di dunia karena leluhur kita tidak meninggalkan agama dan budaya kita, justru agama dan kebudayaan kita berkembang dengan pesat, akan tetapi hari ini kita gengsi menggunakan ilmu dan petunjuk yang ada dan berasal dari leluhur kita sendiri, orang Indonesia hari ini lebih suka menggali ilmu dari negara lain daripada meneliti dan menggali ilmu yang ada di bumi pertiwi ini, apabila disampaikan manfaat jengkol untuk obat kangker atau diabetes oleh mang Dadang tidak ada yang percaya, akan tetapi bila Profesor Doktor Amerika atau Eropa yang menyampaikan, langsung percaya; oleh karena itu mulai hari ini kita akan berinvestasi secara besar-besaran untuk menggali kekayaan leluhur kita, sehingga kita akan bangga menjadi bangsa Indonesia, bukan bangsa imitasi atau bangsa yang suka meniru peradaban orang lain.

Tuhan telah menganugerahkan kepada bangsa Indonesia menjadi manusia paling ramah dimuka bumi bangsa yang tidak sombong dan selalu bertutur kata baik karena bangsa Indonesia adalah bangsa ber-Tuhan dan selalu menerapkan ajaran-ajaran Tuhan seperti dalam Injil berikut ini, Tuhan berfirman: Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. (Matius 5:5)”.Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah (Amsal 15:1)”, demikian juga dalam Al Qur’an yang banyak diprkatekkan pengikutnya di negara ini dimana terdapat surat Ali Imron: 159: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” Dengan sangat jelas Tuhan memberikan kelebihan kepada bangsa kita yang mampu mempraktekkan ajaran Tuhan dengan baik dan benar, lalu mengapa kita mencoba mengadopsi tata cara barat yang lebih berorientasi kepada kekasaran, kesombongan, cuek dan keserakahan. Bersyukurlah kita punya Pancasila yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945, meskipun lahir mendekati kemerdekaan Indonesia, akan tetapi konsep dasarnya digali dari warisan leluhur bangsa kita yang sudah berumur ratusan tahun, sehingga Pancasila 1 Juni 1945 akan kita gunakan sebagai landasan paling mendasar dalam menerapkan Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan ini. Dimana awal diucapkan kata Pancasila, ketika itu dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan bapak Proklamator Kita Soekarno diberi kesempatan untuk berpidato pada tanggal 1 Juni 1945 di depan sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai, beliau mengungkapkan:

“Saya seorang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh Rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau pada suatu hari Ki Bagus Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan automatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarchie itu.

Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5 ? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:

  1. Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme, – atau peri-kemanusiaan.
  3. Mufakat, – atau demokrasi.
  4. Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya:

Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Prinsip  K e t u h a n a n !”….

Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme-agama”. Dan hendaknya   N e g a r a   Indonesia satu   N e g a r a   yang bertuhan!”

“Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan   dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Indera. Apa lagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir : Pendawa lima). Pendawapun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah P a n c a   S i l a . Sila artinya azas atau d a s a r , dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Dari pidato Bung Karno di atas beliau menyampaikan bahwa setelah melakukan perenungan panjang dan meneliti kebudayaan yang berkembang di nusantara, dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan baik dari barat maupun dari timur, ternyata Bung Karno tidak mencoba mengambil pelajaran dari Imperialisme, Kolonialisme, Sosialisme, maupun demokrasi yang diterapkan di Yunani, Eropa, Amerika, Jepang dan sebagainya, akan tetapi Soekarno mengamati dengan seksama apa yang dibutuhkan bangsa kita, agar Indonesia setelah merdeka mampu menjadi negara besar, negara yang Berdaulat dalam politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, Berkepribadian dalam kebudayaan, dengan kata lain seperti halnya pertanyaan Najwa Shihab pada acara Mata Najwa di Metro TV, kepada Presiden ke V Indonesia Megawati Soekarno Putri “Apa yang ibu cita-citakan dan inginkan terhadap negara tercinta Indonesia?”, dengan berlinang air mata beliau mengucapkan INDONESIA RAYA.

Pancasila 1 Juni 1945 adalah penjabaran dari rumus, pola atau resep dari Trisakti Bung Karno, yang apabila kita benar benar mampu menggali, mengupas dan menerapkan harta karun ini maka akan terwujud Indonesia Raya dan akan “Melu Hamemayu Hayuning Bawono”, dengan kata lain dengan memecahkan rumus peninggalan Bung Karno maka akan tercapai kesejahteraan Indonesia, yang secara otomatis akan ikut andil menciptakan keindahan Dunia bahkan akhirat. Apabila Einstein memperkenalkan dalam pelajaran IPA khususnya Fisika berupa rumus e=mc2, untuk menciptakan bom yang membuat negara adikuasa berusaha menguasai jagad raya dengan mengancam akan menghancurkan negara lain yang tidak mengikuti perintahnya, sedangkan Soekarno memperkenalkan TRISAKTI = 5 Prinsip Pancasila 1 Juni 1945 = Indonesia Raya= Hamemayu Hayuning Bawono, yang biasanya akan kita temukan dalam pelajaran IPS khususnya mata pelajaran Sejarah, yang dalam pidato beliau mengungkapkan bahwa:

“Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan negara Indonesia, yang    k i t a   s e m u a   harus men-dukungnya.   S e m u a   b u a t   s e m u a !  Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Van Eck buat indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, – s em u a   b u a t   s e m u a ! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan g o t o ng – r o y o n g . Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara g o t o n g   r o y o n g ! Alangkah hebatnya!   N e g a r a   G o t o n g R o y o n g ! (Tepuk tangan riuh rendah).

“Gotong Royong” adalah faham yang d i n a m i s , lebih dinamis dari “kekeluargaan”, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, b e r s a m a- s a m a !

Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. A m a l   semua buat kepentingan semua, k e r i n g a t  semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! (Tepuktangan riuh rendah).

Prinsip Gotong Royong di antara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, saudara-saudara, yang saya usulkan kepada saudara-saudara.

Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Eka Sila. Tetapi terserah kepada tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila ataukah pancasila?”

Kesimpulan dari pidato Bung Karno diatas adalah dalam rangka menciptakan Indonesia Raya yang artinya Indonesia sampai kapanpun merupakan persatuan dari suku-suku, bahasa-bahasa, agama-agama, Partai Politik yang banyak ragamnya, Inilah Indonesia, kita tidak akan menjadi negara yang satu suku saja, satu agama saja, satu bahasa saja, akan tetapi inilah Indonesia suatu negara kepulauan yang berada tepat di garis katulistiwa dan itu tidak boleh berubah, karena atas dasar kesepakatan bersama nama Indonesia dipilih sebagai ganti nama Hindia Belanda sebelumnya, dan atas dasar kesepakatan pula kita membuat janji berupa Sumpah Pemuda, dan segala prasyarat pembuatan negara ini termasuk lagu kebangsaan, Undang-Undang Dasar, Lambang Negara dan lain -lain ditetapkan karena kesepakatan yang mengalami proses musyawarah panjang, debat, adu argumen antara tokoh agama, ahli politik, ilmuwan, budayawan, buruh, petani, marhaen-marhaen yang lain dalam memutuskan kesepakatan-kesepakatan tersebut. Oleh karena itu dengan tanpa merubah apa yang telah pendahulu sepakati, kita baru akan mampu menyelesaikan cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu Indonesia Raya.

Kita harus menyelesaikan tugas yang belum rampung seperti yang Bung Karno ucapkan “Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun ’33 saya telah menulis satu risalah, Risalah yang bernama ,,Mencapai Indonesia Merdeka”. Maka di dalam risalah tahun ’33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah satu    j e m b a t- a n     e m a s. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat”.

Inilah PR yang harus kita selesaikan yaitu menyempurnakan cita-cita leluhur bangsa Indonesia, untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, dan ini bisa terwujud bila kita mampu menjabarkan rumus Pancasila 1 Juni 1945, yang intinya hanya dengan Gotong Royong, dan ingat sekali lagi Indonesia tidak sama dengan negara lain dimanapun di bumi ini, Indonesia mempunyai perbedaan yang sangat mencolok, oleh karena itu strategi, sistem, tata cara atau rumus apapun tidak bisa diterapkan di Indonesia untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmurannya, akan tetapi Indonesia akan mampu mewujudkan cita-cita pendiri negara ini hanya dengan gaya dan strategi yang dimiliki Indonesia sendiri; saatnya kita kembali menekuni, mempelajari dan mengupas juga menerapkan peninggalan leluhur yang begitu banyak dan lebih cocok untuk menciptakan “Indonesia Raya”.

Sumber Pustaka:

LAHIRNYA PANCASILA, Penerbit Guntur, Jogjakarta, Cetakan kedua, 1949
Publikasi 28/1997 LABORATORIUM STUDI SOSIAL POLITIK INDONESIA

http://www.halalsociety.com/holy-quran-bahasa-indonesia

www.injilonline.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s