PEMBANGUNAN SEKTOR KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN INDONESIA KELUAR DARI TUJUAN LELUHUR KITA, MENDIRIKAN NEGARA INDONESIA

Muhammad Urip Budi Raharjo

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar-Ruum Ayat : 41)

Bencana longsor Banjarnegara yang terjadi di akhir tahun 2014 merupakan isyarat dari Tuhan agar bangsa Indonesia dengan presiden barunya harus mengajak rakyatnya untuk membangun hidupnya kembali hanya ditujukan untuk Tuhan. Masyarakat Indonesia sangat percaya kepada Tuhan akan tetapi menetapkan tujuan hidupnya hanya untuk Harta, Kekuasaan dan Wanita, oleh karena itu saatnya memperbaiki dan kembali merevisi semua tujuan hidup manusia Indonesia ini. Dari ayat pembuka diatas diisyaratkan kepada kita agar manusia kembali ke jalan yang benar, gaya hidup yang benar atau way of life yang benar. Oleh karenanya dalam memperbaiki dan mengupayakan Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan di Indonesia, tidak boleh lepas dari ajaran-ajaran agama, ajaran leluhur atau budaya dan ajaran yang ada di fenomena alam. Karena dalam pembangunan dua sektor ini akan sangat berpengaruh kepada seluruh sektor pembangunan lainnya. Agar dalam memperbaiki kedua sektor ini tidak kebablasan, bahkan justru akan menambah kerusakan yang selama ini telah terjadi, maka perlu menggali, mencari, mempelajari dan membuka satu persatu; seperti apa?, apa tujuannya? dan bagaimana menerapkan ajaran leluhur kita itu?; kita harus berani tampil beda dimata dunia, cara-cara barat yang sudah sekian lama kita coba mengadopsinya untuk membuat manusia berstandar internasional yang bertujuan mempercepat pembangunan Indonesia, sudah berhasil, akan tetapi hasilnya justru lebih banyak hal buruknya yang tercapai seperti cara berpakaian, gengsi, bertutur kata yang tidak sopan, individualisme dan bahkan mengarahkan Indonesia menuju jurang kehancuran.

Kita mencoba mengambil pepatah dari negara China “Xue ru ni shui xing zhou, bu jin ze tui”, “Belajar seperti Perahu melawan arus, kalau tidak maju berarti mundur”. Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan Indonesia lebih menunjukkan mengikuti arus bukan menentang arus makanya tidak memperoleh hasil yang baik. Mulai hari ini kita harus bawa bahtera Indonesia untuk melawan arus, budaya dan ilmu barat yang begitu deras menerjang Indonesia, jusru akan kita lawan dengan budaya asli Indonesia, selama ini kita justru kebawa arus budaya mereka, kita berusaha mengatasi persoalan dengan strategi bangsa asing. Jepang bisa maju karena mengembangkan dan memperkenalkan budaya disiplin, gigih dan tanpa mengenal lelah yang dimiliki negara tersebut, sehingga mereka mampu berdiri sama tinggi dengan negara-negara barat, demikian pula yang dilakukan oleh China dan Korea Selatan; Indonesia justru punya budaya yang lebih banyak, beragam dan sangat tinggi nilainya akan tetapi justru mengembangkan budaya barat hampir 80%, dan meskipun budaya barat menerjang seperti gelombang tsunami, ternyata budaya Indonesia tetap ada dan tidak banyak berubah, oleh karena itu kita akan membangun Kemanusiaan dan Kebudayaan Indonesia dengan apa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sendiri, bukan meminjam dan menerapkan budaya bangsa lain, meskipun ada beberapa yang kita akan ambil pelajaran tetapi yang baiknya bukan justru sebaliknya, dengan upaya sekeras apapun dan menggunakan modal sebesar apapun untuk meniru budaya barat atau budaya negara lain yang lebih dahulu maju dalam segala bidang, tetap saja Indonesia tidak bisa seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jepang maupun negara manapun, bangsa Indonesia adalah bangsa Indonesia, jangan puas menjadi bangsa imitasi, kita punya originalitas, oleh karena itu marilah kita menggali dan membedah kembali ajaran atau rumusan yang diwariskan nenek moyang kita.

Meskipun Einstein mengatakan “Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta” akan tetapi kebanyakan ilmuwan yang menggali dan membuktikan kebenarannya justru menggunakan rumus E=mc2 untuk menghancurkan bumi, ajaran nenek moyang kita justru sebaliknya yaitu menciptakan keindahan Bumi, Perdamaian Dunia, Kemakmuran Dunia dan ikut menjaga ketertiban Dunia, dimana ajaran itu dalam buku Memayu Hayuning Bawono yang di tulis oleh Bapak DR. Budya Pradipta “Melu Hamemayu Hayuning Bawono” yang artinya mengusahakan atau mengupayakan Keselamatan, Kebahagiaan, perdamaian dan Kesejahterann Hidup di Dunia dan Akhirat, atau bisa juga bermakna Ikut Membuat Indahnya Dunia, baik secara perilaku (rohani) maupun fisiknya. Bahkan ajaran ini secara mendalam juga memberikan pola hidup damai, sejahtera dengan menjadi manusia utama yang bekerja tanpa pamrih, yang dalam bahasa Jawa “Memayu Hayunig Bawono (credo) Sepi ing pamrih rame ing gawe (tidak punya kepentingan dan sibuk bekerja), Sastro Cetho Harjendro Hayuning Bumin (dengan giat dan terus menerus berusaha membangu dunia baik secara fisik maupun jiwa/rohaninya”.

  • Bawono Alit (alam kecil) dalam membangun perdamaian dan kesejahteraan dimulai dari diri, keluarga dan lingkungannya.
  • Bawono Agung (alam secara luas) yg berati ikut terlibat dalam membangun di lingkungan masyarakat, bangsa, negara dan international (global)
  • Bawono Langgeng (abadi) adalah alam akhirat

Lebih lengkapnya ungkapan jawa itu adalah: Hamemayu Hayuning Bawono, Ambrasto dhur angkoro (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak). Beberapa contoh ilmu leluhur kita yang berasal dari Jawa dan sangat bagus untuk diajarkan kepada seluruh manusia di Indonesia dan Dunia pada umumnya, diantaranya adalah: Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake, dalam peperangan di tanah leluhur kita untuk menaklukkan bangsa lain bukan dengan membawa pasukan bersejata dan mencari lawan akan tetapi datang sendirian untuk melakukan perundingan atau diplomasi dan meningkatkan silaturahim untuk menumbuhkan jiwa persahabatan, sehingga tercapai kesepakatan bilateral atau multilateral tanpa harus mengeluarkan otot apalagi senjata sehingga tidak membuat teman bicara merasa direndahkan; Sekti Tanpo Aji-Aji, Sugih Tanpo Bondho artinya Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman artinya Jangan terobsesi atau terkungkung keinginan memperoleh kedudukan/kekuasaan, kebendaan/harta dan kepuasan duniawi/seks. Ojo Milik Barang Kang elok, Aja Mangro Mundak Kendo=Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat. Urip Iku Urup = Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

Jelas sekali ajaran leluhur kita berlawanan dengan ajaran barat, mereka mengajarkan kesombongan, kemunafikan, keserakahan dan keangkara murkaan dan dengan terang-terangan sering menggunakan kedok agama demi tercapainya keinginan mereka, mereka sering memaksakan kehendak demi harta, tahta dan wanita, sementara ajaran nenek moyang kita mengajarkan seperti pepatah dari Batak ini “Jolo suhat do anso poring, Dungi dope na boboion yang artinya: Lebih dahulu keladi- baru keladi gatal,Baru setelah itulah yang dikatakan “boboion

Maksudnya adalah: Jangan menunjukkan kekuatan dan memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain.

Ilmu-ilmu warisan leluhur diatas hanya hasil dari setetes tinta yang digoreskan nenek moyang kita, yang ditujukan untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita mempunyai beribu-ribu suku yang mempunyai peninggalan keilmuan dan pola hidup berbeda-beda akan tetapi bertujuan sama yaitu perdamaian dan kesejahteraan. Pekerjaan Rumah buat generasi Indonesia hari ini untuk meneliti, memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari ajaran leluhur masing-masing suku, adat dan budayanya. Rumus-rumus yang ditinggalkan nenek moyang bangsa-bangsa dari negara barat telah ditemukan rahasiannya dan hasilnya hanya merusak bumi, sedangkan rumus atau pola yang ditinggalkan nenek moyang kita perlu dikaji dan diuji agar terwujud keindahan, keelokan, kedamaian dan kesejahteraan di seluruh muka bumi seperti yang diharapkan para leluhur kita.

Indonesia mulai menelan bulat – bulat strategi barat untuk membangun Indonesia sejak tahun 1968 yaitu dimulainya penerapan kurikulum pendidikan yang diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan fisik yang sehat dan kuat, inilah yang menyebabkan turunya peradaban bangsa kita sendiri, materi pembelajaran lebih banyak bahkan mencapai 80% lebih diarahkan untuk mengupas ilmu-ilmu barat yang hanya meningkatkan kemampuan fisik, sedangkan kemampuan mental hanya 20% bahkan kurang dari itu, pendidikan ala barat yang terus ditumbuh kembangkan menciptakan generasi yang keluar dari tujuan didirikannya negara ini yaitu manusia yang berkarakter gotong royong, hasil penerapan ilmu barat banyak menumbuhkan karakter buruk pada bangsa ini, diantaranya individualisme, memaksakan kehendak dengan demonstrasi, arogan, tidak punya tata krama bahkan hingga penampilan juga lebih distandardkan dari dunia luar, tidak seperti Korea Selatan, Jepang, India dan China bahkan Malaysia yang mempelajari budayanya terlebih dahulu kemudian dikembangkan agar bisa disesuaikan dengan perkembangan dunia. Indonesia yang kaya akan budaya justru dikikis dengan budaya Amerika dan Eropa. Pelajar di Indonesia akan bangga bila mengusai rumus-rumus fisika dan matematika dari pada mempelajari dan menerapkan filsafat yang terkandung dalam kebudayaan yang sangat banyak itu.

Buku-buku dan ajaran Mahatma Gandhi, Jawaharal Nehru dan ilmuwan India lainnya dikupas dan dipelajari di sekolah-sekolah India, buku dan ajaran pemimpin China yang hampir selalu mempelajari jiwa manusia dan menulis beberapa teks kuno, seperti I Ching dan Tung Shu dan lain-lain, di kupas oleh pelajar-pelajar China, sedangkan Indonesia justru bangga dengan memahami rumus Einstein, Pythagoras dari pada memahami dan mempelajari filsafat Mpu Tantular, Mpu Prapanca, buku – buku Ir Soekarno, Muhammad Yamin, Pramoedya Ananta Toer dan masih banyak ilmuwan yang handal dari negara kita sendiri. Oleh karena itu jangan heran apabila generasi kita banyak mengusai ilmu-ilmu fisik/raga atau kanuragan tapi tidak menguasai ilmu kebathinannya/rohaninya/mentalnya dan setelah mereka menguasai tehnologi berakibat menjadi manusia sombong, angkuh dan hanya memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan sendiri, gotong royong dan bermanfaat untuk orang banyak terkikis keseluruhan dari jiwa generasi muda Indonesia, pepatah yang mengatakan “Pakailah ilmu padi yang semakin berisi semakin merunduk” artinya semakin menguasai ilmu semakin bijaksana tidak bisa diwujutkan apabila kurikulum Indonesia masih mengadopsi 90% dari negara lain, karena justru mencetak generasi yang “tong kosong nyaring bunyinya” tidak mau berkarya akan tetapi justru banyak bicara bahkan mempengaruhi orang lain untuk membenci orang lain, pamer, dan memperlihatkan keberhasilannya bahkan beribadahpun di muat dalam statusnya di media sosial demi kesombongannya.

Kehancuran karakter bangsa Indonesia karena dalam mendidik generasinya menerapkan ilmu “Kacang Lupa Kulitnya”. Semoga Kementrian dibawah koordinator Kemanusiaan dan Kebudayaan segera menyadari akan hal itu agar dengan berani segera merobah tatanan hidup bangsa ini yang banyak menjiplak ilmu dan tata cara luar, dengan berusaha merubah pola pikir yang meniru gaya barat dan merubah fisik dari kulit coklat menjadi putih dan rambut dicat warna – warni, yang justru menciptakan generasi imitasi “bule” tapi kecil dan berperilaku individualisme yang lebih menonjolkan sifat pamer dan kesombongan bahkan arogan, lebih baik kita menonjolkan keaslian kita yaitu berkulit sawo matang, berambut hitam, ramah, berjiwa gotong royong dan selalu memberi manfaat untuk orang banyak, itulah bangsa Indonesia yang asli; individualis, arogan dan demonstrasi merupakan ilmu barat yang berhasil ditanamkan melalui penerapan kurikulum yang bersetandar internasional yang menghasilkan generasi yang tidak suka musyawarah, suka memaksakan kehendak dan selalu berpikir bahwa tujuan hidupnya hanya untuk memperoleh kekuasaan, harta dan wanita atau pria bagi wanita karir, lebih baik bangsa ini segera menyadari bahwa kita adalah bangsa besar yang punya standar sendiri, punya etos kerja sendiri dan punya mind set asli Indonesia yaitu manusia berkarakter gotong royong demi terwujutnya cita-cita leluhur Indonesia yaitu melu Hamemayu Hayuning Bawono bukan justru merusak dunia atau bumi yang kita huni ini.

Menguasai tehnologi bangsa Indonesia sangat ahli, bahkan anak 3 tahun dengan cepat mampu mengoperasionalkan gedjet dan aplikasi perangkat lunak dalam komputer, handphone dan lain – lain, mengapa kita harus membuat sendiri? kita diciptakan oleh Tuhan sebagai Raja yang menggunakan hasil tangan hamba sahayanya, mengapa kita harus membuat mobil, handphone, motor sendiri bila kita bisa membelinya? Lebih baik kembali bersyukur bahwa kita dianugerahi Tuhan berupa: tanah subur, siang dan malam yang seimbang, udara yang seimbang dengan suhu tubuh manusia dan banyak keseimbangan lain yang ada di negara kita, kodrat kita adalah menanam pohon dan memelihara binatang dan mengembalikan keseimbangan ekosistim dunia mulai dari negara kita, kita tidak akan miskin dan sengsara bila kita konsentrasi pada pengembangan produk pertanian dan perikanan, kita cukup sebagai pengguna tehnologi tidak perlu memaksakan generasi kita untuk mampu menguasai cara membuatnya yang berakibat akan menjadi serakah untuk menguasai pasar dunia. Dengan kembali kepada apa yang diberikan kepada kita oleh Tuhan maka secara otomatis sifat manusia akan tumbuh dan berkembang pada generasi kita. Kita tidak menginginkan generasi yang berfisik manusia tapi berkarakter binatang atau bahkan “SETAN”.

Daftar Pustaka:

http://kariyan.wordpress.com/2010/10/24/ngurip-uripi-ageming-adji-agama/#more-353

http://zakysyouri.blogspot.com/2010/08/hamemayu-hayuning-bawono.html

http://www.halalsociety.com/holy-quran-bahasa-indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s